Postingan

Menampilkan postingan dengan label musings

Living Young, Wild, and Free?

Gambar
I assume you all know Life of Pi . Yes, it's a novel-based movie about that Indian boy and a tiger stranded in a boat in the Pacific ocean. But no, I won't talk about the story. Pi, the main character, though, is a Hindu, Christian, and Muslim at the same time. He believes in many Gods. He thinks that having three religions is better than having none at all . And then, he manages to find the allegory between zoo and religion. You know, zoo has been a controversial issue since some people say that it is not right to lock up animals in the cage. Animals should be free, they say; living in the open and learning to hunt the food by themselves. As written on the book: "Well-meaning but misinformed people think animals in the wild are ‘happy’ because they are ‘free’ ”. But in fact, they do that because they have none to believe and nothing to stand on. Like a wild animal. ...is a disaster. You know, free people thinks they are, well, free. They have no religion (a...

Fear God Alone

Gambar
Di buku fiksi ilmiah yang lagi saya baca-- Divergent --ada suatu ruangan yang namanya " fear landscape" , yaitu tempat dimana seseorang mengalami simulasi rasa takutnya. Di ceritanya, fear landscape ini bagian dari suatu "ujian" bagi para initiates . Semacam ospek untuk masuk suatu faksi gitu. Caranya mudah, peserta tinggal duduk, kemudian disuntik semacam serum. Lalu masuklah ke mode simulasi. Si tokoh utama, Tris, punya 7 rasa takut. Di antaranya ada burung gagak, tenggelam, dan kehilangan keluarga. Yang lainnya ada yang punya sampai 20 rasa takut, dan yang paling sedikit yang pernah didata adalah 4 rasa takut. Nggak ada yang nggak punya rasa takut. Indeed . Kalau beneran ada fear landscape, entah berapa rasa takut yang saya punya. Salah satunya takut tenggelam. Bukan karena saya nggak bisa berenang aja, tapi karena saya pernah ninggalin adik tenggelam  di laut  and  that will not ever happen again , plis saya trauma hahaha. Atau mungkin, saya nggak akan pe...

Perempuan; samakah derajatnya?

Gambar
Tempo hari lalu si Dika tiba-tiba curhat soal dosennya yang beropini soal kesetaraan antara lelaki dan perempuan. Kata dosen tersebut, lelaki itu payah karena nggak bisa ngurusin anak, beres-beres rumah, masak ini-itu sekaligus berkarir juga. Jadi, suaminya itu diremehkan karena nggak se-multitasking dia. Kami berdua nggak ngerti dan nggak setuju sama apa yang diomongin beliau. Padahal, perempuan ya perempuan, punya karakteristik, punya peran sendiri. Saya jadi keinget omongan guru sosiologi saya waktu SMA dulu, Bu Mimin. Beliau bilang lelaki dan perempuan itu sederajat. Tapi bukan berarti bahwa perempuan punya hak dan kewajiban yang sama dengan lelaki. Seorang perempuan punya perannya sendiri, pun lelaki. Perbedaan itulah yang menunjukkan kesederajatan antara lelaki dan perempuan. Saya emang nggak begitu ngerti apa maksud beliau, tapi karena asupan teori seperti itulah yang membuat saya berpikir bahwa lelaki dan perempuan itu memang diciptakan sedemikian beda untuk saling meleng...