Perempuan; samakah derajatnya?
Tempo hari lalu si Dika tiba-tiba curhat soal dosennya yang beropini soal kesetaraan antara lelaki dan perempuan. Kata dosen tersebut, lelaki itu payah karena nggak bisa ngurusin anak, beres-beres rumah, masak ini-itu sekaligus berkarir juga. Jadi, suaminya itu diremehkan karena nggak se-multitasking dia. Kami berdua nggak ngerti dan nggak setuju sama apa yang diomongin beliau. Padahal, perempuan ya perempuan, punya karakteristik, punya peran sendiri. Saya jadi keinget omongan guru sosiologi saya waktu SMA dulu, Bu Mimin. Beliau bilang lelaki dan perempuan itu sederajat. Tapi bukan berarti bahwa perempuan punya hak dan kewajiban yang sama dengan lelaki. Seorang perempuan punya perannya sendiri, pun lelaki. Perbedaan itulah yang menunjukkan kesederajatan antara lelaki dan perempuan. Saya emang nggak begitu ngerti apa maksud beliau, tapi karena asupan teori seperti itulah yang membuat saya berpikir bahwa lelaki dan perempuan itu memang diciptakan sedemikian beda untuk saling meleng...