Postingan

Menabung Menggunakan Tapenas dan TabunganKu Untuk Liburan Bareng Teman

Gambar
Pernahkan kalian bercita-cita ingin pergi ke luar negeri setelah lulus kuliah, tapi tidak ingin merepotkan orang tua dan ingin pakai uang sendiri? Sebetulnya, kalian bisa mewujudkannya lho. Dengan mengeluarkan uang Rp100.000 per bulan, begitu lulus kuliah kalian bisa jalan-jalan ke luar negeri. "Tapi, nabung susah, Ver :(" Hehe. Iya, sih. Saya sendiri juga merasa kesulitan menabung pada saat kuliah, karena begitu diberi uang bulanan, uangnya cuma lewat saja, untuk bayar kosan, beli buku, atau untuk biaya hidup sehari-hari. Tapi, sekali lagi, asal ada niat, kalian bisa nabung dengan mudah. Sepengetahuan dan sepengalaman saya, ada 2 cara efektif untuk menabung, dan menggunakan uang tabungan itu untuk kepentingan bersama: 1. Buka rekening Tapenas 2. Sharing rekening TabunganKu bersama teman Sebelum saya jelaskan lebih jauh, perlu diketahui bahwa saya berasumsi bahwa: - Target tabunganmu 10 juta rupiah - Kamu mulai menabung dari semester 1 kuliah - Kamu "nab...

Pengalaman/Cara Bikin Paspor di Kota Bandung~

Gambar
What's up. Di kesempatan ini, saya akan bercerita soal pembuatan paspor. Semoga tulisan ini bisa membantu agar teman-teman pembaca tidak mengalami kesialan yang saya alami, hehe. Pentingnya Paspor Ada sebuah tulisan yang menginspirasi saya untuk segera membuat paspor, yaitu tulisan yang dibuat oleh Prof. Rhenald Khasali , seorang Guru Besar di Universitas Indonesia. Menurut beliau, paspor adalah "tiket (pertama) untuk melihat dunia". Nggak ada uang? Nggak masalah, uang bisa dicari. Silakan putar otak gimana caranya dapet tiket murah, losmen murah, dsb. Intinya sih, nggak ada salahnya mempersiapkan segalanya sebelum kita "berkelana", dan yang bpertama kali harus kita siapkan adalah paspor . Setelah baca artikel tersebut, saya bertekad untuk bikin paspor keesokan harinya. Jenis-jenis Paspor Di Indonesia, ada 3 jenis paspor berdasarkan lembaga yang mengeluarkannya, yaitu: 1. Paspor Umum (sampul hijau, dikeluarkan Dirjen Kemenkumham) 2. Paspor Kedinasan (sa...

Kaleidoskop 2015

Salam! Sebenarnya, tulisan ini saya bikin di penghujung 2015, tapi sudah hampir setahun lamanya mengendap menjadi draf dan baru sekarang ini saya lanjutkan nulis lagi. Lagian, kalau nggak ditulis, nanti bisa lupa dan lupa itu marabahaya. Nah, ini dia yang menurut saya yang paling memorable di tahun 2015. 1. Kuliah Kerja Nyata (KKN) Ini dia. Paling terang seantero 2015. Bagi saya, sama seperti yang dibilang Ade Iyan Rusyana alias pak kordes, KKN di bulan Januari 2015 ini merupakan "wisata rohani". Kapan lagi saya tinggal di tempat yang super Islami (bukan di pesantren), yang sunyi, yang semua orang masih bisa berbahagia walau sinyal internet di sana bikin pengen saya manjat pohon pinang? Seriously tho , Kutawaringin itu cuacanya panas tapi anget di hati. Tetangga-tetangganya superbaik, dan alhamdulillah saya dikasih teman-teman, terutama teman-teman sekamar, yang solehah dan banyak bikin saya bermuhasabah. Dan, kebetulan banget, Januari 2015 itu lagi sasih muludan, yan...

Pengalaman Mencairkan Western Union di Kantor Pos

Gambar
Halo, lama nggak jumpa. Kali ini saya mau sharing tentang pengalaman mencairkan uang di Kantor Pos. Jadi, sekitar Januari 2016 ini saya mulai bisnis boneka (haha iya, boneka). Boneka-boneka tersebut cuma saya pasarkan untuk fandom tertentu dan hanya saya promosikan di Instagram, so anyone could buy and I said I can ship worldwide. Beberapa bule (?) tertarik, namun saya bingung ketika mereka tanya soal cara bayar. Biasanya, untuk transaksi internasional, metode pembayaran yang paling sering digunakan adalah PayPal. Tapi sayangnya saya nggak punya PayPal karena saya nggak punya Credit Card (walau ternyata di negara kita banyak yang menyediakan jasa pencairan/pembelian via PayPal, simak cerita saya di sini). Walhasil, saya pakai cara kedua yang paling sering digunakan: Western Union. Western Union itu semacam Wesel Pos, jadi kita bisa kirim/terima uang ke kantor yang menyediakan jasa Western Union secara tunai. Nggak usah nuker uang rupiah tersebut dari Rupiah menjadi Dolar atau Won ...

Dilan

Aku mau review novel Dilan. Sebenernya bukan review, tapi mau cerita aja. Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990 , dan Dilan 2, dia adalah Dilanku tahun 1991 , yang dikarang oleh Pidi Baiq yang namanya terpampang di dinding kolong jembatan di Jalan Asia Afrika. Dilan, oh Dilan. Dilan bukan siapa-siapa. Dia cuma tokoh fiksi, tapi bikin temen saya bilang "aku naksir Dilan!" padahal dia sendiri laki-laki. Yang perempuan apa lagi, siapa juga yang gak mau sama Dilan. Seenggaknya, punya temen seasik Dilan bakalan seru. Karena bisa dimintain uang sama Wati, hehehe. Padahal mungkin Dilan juga suka nganjuk gorengan di warung Bi Eem. Oh ya, Dilan juga banyak disirikin laki-laki lain karena Dilan jago gombal, tapi gombalannya gak pernah bikin geli. Dilan, kelas dua SMA. Atau tiga, entahlah. Muncul pertama kali di bab pertama, di kota Bandung, di sebuah SMA negeri di Jalan Buahbatu. Mungkin di SMA 8, atau mungkin di SMA 22. Entahlah. Dilan anak berandalan, tapi dia sayang bunda....

I need to write.

Kalau dilihat di arsip, kelihatan banget kalau frekuensi saya menulis semakin ke sini semakin berkurang. Tahun ini saya hanya post berapa tulisan coba? Tiga? Empat? Sigh. Lalu saya pun lihat-lihat tulisan saya yang dulu-dulu. Betapa memalukannya tulisan-tulisan tersebut, sampai ada beberapa yang saya hapus. Tapi ada juga yang saya simpan, kebanyakan yang isinya kenangan, atau yang isinya hasil ngegalau. Biasanya, setelah ngegalau, kebijakan saya naik 1%. Dan tulisan-tulisan maha galau bin lebay itu lah yang terkadang bikin saya bangkit lagi. Haha, lucu.  An old self, telling you to do something.  Iya juga, sih. Nulis = mikir. Nulis = mengingat. Tulisan = pengingat. Kayaknya saya harus mulai banyak nulis lagi-- to keep myself sane .

2K14 caleidoscoop

Gambar
college (semester 5) I took 9 courses in this semester (worth 18 SKS), and 5 of them are MKU so you probably know what I did most in the class: chit-chatting or sleeping or playing my Superstar SM. In short, the MKU courses are super boring. Four other courses are translating and prose. I tried to keep up with weekly assignments; reading tons of materials (which I neglected) and making short papers BUT I was distracted by squishy and sexy orabangs from South Korea so yeah you know the rest of the story. I'm sure that my grades will not be as good as in the previous semesters, duh. I could not even submit my final papers in time because of the classic procrastination (and because I misread the due date). I wonder why am I so suck in writing 2000-word papers meanwhile I can write 5000-word fanfiction just in no time. But I had fun doing one of the MKU assignments: I went to Roemah Seni Sarasvati and meet Mbak Tanti, the project manager, who turns out to be the alumnus of my dep...